You are currently viewing Rahasia Contoh Keaslian Penelitian yang Selalu Disetujui Penguji

Rahasia Contoh Keaslian Penelitian yang Selalu Disetujui Penguji

Saat mengajukan proposal skripsi atau tesis, salah satu poin yang paling sering membuat dosen penguji mengernyitkan dahi adalah pernyataan keaslian penelitian yang terkesan asal-asalan, terlalu umum, atau malah terindikasi mirip dengan penelitian orang lain.

Akibatnya? Proposal ditolak, revisi berulang, bahkan terpaksa ganti judul di menit-menit terakhir. Banyak mahasiswa yang sudah capek mencari referensi justru terjebak plagiarisme tidak sengaja hanya karena tidak tahu cara merumuskan keaslian yang meyakinkan.

Padahal, menunjukkan contoh keaslian penelitian yang tepat tidaklah sulit selama kamu memahami elemen kunci yang dicari penguji: ada gap penelitian yang jelas, konteks baru, metode berbeda, atau lokasi/subjek yang belum pernah disentuh sebelumnya. Tanpa pernyataan keaslian yang kuat, sebaik apa pun ide kamu, tetap berisiko dianggap “kurang orisinal”.

Kami di JasaSkripsi.co.id adalah jasa skripsi profesional yang sudah membantu lebih dari 12.000 mahasiswa S1 sampai S3 menyelesaikan tugas akhir tepat waktu melalui berbagai layanan pendampingan skripsi yang transparan, antiplagiat 100%, dan bergaransi lolos sidang.

Yuk, langsung mulai dari bagian pertama: 50+ Contoh Pernyataan Keaslian Penelitian Skripsi/Tesis yang Baik dan Benar yang sudah terbukti diterima penguji di berbagai kampus ternama di Indonesia. Scroll ke bawah sekarang!

50+ Contoh Pernyataan Keaslian Penelitian Skripsi/Tesis yang Baik dan Benar

Berikut ini kami sajikan lebih dari 50 contoh pernyataan keaslian penelitian yang sudah terbukti lolos sidang proposal di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Contoh-contoh ini kami kelompokkan berdasarkan jenis kebaruan yang paling sering digunakan mahasiswa, sehingga kamu bisa langsung memilih dan memodifikasi sesuai kebutuhan penelitianmu tanpa takut ditolak penguji.

Contoh Keaslian Berdasarkan Lokasi Penelitian yang Belum Pernah Disentuh

Kebaruan berbasis lokasi masih menjadi salah satu cara termudah dan paling aman untuk meyakinkan penguji bahwa penelitianmu benar-benar orisinal. Penguji biasanya langsung menerima argumen “belum ada penelitian serupa di wilayah ini” karena data empiris memang berbeda ketika konteks geografis, sosial, dan budaya berubah.

Contohnya, jika sebelumnya banyak penelitian tentang implementasi kurikulum merdeka di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, kamu bisa mengalihkan fokus ke daerah 3T, pesisir, atau pulau terluar. Pernyataan keaslian yang baik akan menyebutkan secara eksplisit nama kabupaten/kota, karakteristik unik wilayah tersebut, dan mengapa hasil penelitian sebelumnya tidak bisa digeneralisasi ke lokasi barumu. Kalimat yang kuat biasanya diawali dengan “Penelitian ini merupakan yang pertama kali dilakukan di…” atau “Belum terdapat penelitian sejenis yang mengambil lokasi di…”.

Beberapa contoh konkret:
“Penelitian mengenai pengaruh pembelajaran daring terhadap motivasi belajar siswa SMA pada masa pandemi di Provinsi Papua Barat belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga penelitian ini menjadi yang pertama di wilayah tersebut.”
“Keaslian penelitian ini terletak pada lokus penelitian di Pondok Pesantren X di Kecamatan Y, Kabupaten Z, Provinsi Papua, yang hingga saat ini belum pernah menjadi objek penelitian serupa.”

Contoh Keaslian Berdasarkan Waktu dan Konteks Kebijakan Terbaru

Perubahan kebijakan pendidikan, kurikulum baru, atau situasi aktual (seperti pasca-pandemi, implementasi Kurikulum Merdeka, atau program MBKM) sering dimanfaatkan mahasiswa untuk menunjukkan kebaruan temporal. Penguji sangat menghargai penelitian yang “up to date” karena dianggap memberikan kontribusi langsung terhadap permasalahan terkini.

Cara merumuskannya adalah dengan membandingkan penelitian terdahulu (yang dilakukan sebelum kebijakan baru diberlakukan) dengan penelitianmu yang dilakukan setelah kebijakan tersebut resmi berjalan. Gunakan kata-kata seperti “pasca diterbitkannya”, “setelah implementasi”, “pada era Kurikulum Merdeka 2024–2025”, atau “di tengah maraknya program Kampus Merdeka”.

Contoh yang sering langsung disetujui:
“Penelitian ini memiliki keaslian karena dilakukan pada tahun ajaran 2025/2026, yaitu masa transisi penuh implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar negeri, sehingga belum ada penelitian sebelumnya yang mengkaji dampak kurikulum tersebut secara menyeluruh di tingkat SD.”
“Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada masa pandemi COVID-19 (2020–2022), penelitian ini mengambil data pada masa endemi 2024–2025 di mana pembelajaran tatap muka 100% telah kembali diterapkan.”

Contoh Keaslian Berdasarkan Subjek atau Sampel yang Berbeda

Mengganti subjek penelitian juga menjadi senjata ampuh. Misalnya, penelitian sebelumnya banyak dilakukan pada siswa SMA, sedangkan kamu mengambil guru, orang tua, atau siswa berkebutuhan khusus. Atau penelitian sebelumnya pada sekolah negeri, kamu ambil sekolah swasta berbasis agama certain.

Penguji biasanya langsung mengangguk kalau kamu menuliskan kalimat pembanding yang jelas, misalnya “Mayoritas penelitian terdahulu menjadikan siswa sebagai subjek, sedangkan penelitian ini mengambil perspektif guru PAI sebagai informan utama…”. Pastikan kamu cantumkan data jumlah penelitian sebelumnya yang sudah ada (bisa dari repository kampus atau Google Scholar) agar pernyataanmu terlihat lebih ilmiah dan meyakinkan.

Contoh terbaik:
“Keaslian penelitian ini terletak pada subjek penelitian yaitu guru honorer PAI di sekolah negeri yang belum pernah dijadikan fokus utama dalam 15 penelitian terdahulu yang lebih banyak mengkaji guru PNS.”
“Penelitian ini merupakan yang pertama mengangkat siswa penyandang disabilitas netra sebagai subjek utama dalam kajian pembelajaran PAI inklusi di sekolah regular.”

Contoh Keaslian Berdasarkan Kombinasi Variabel atau Pendekatan Metode Baru

Jika lokasi, waktu, dan subjek sudah banyak disentuh orang lain, cara terakhir yang paling kuat adalah menggabungkan variabel baru atau menggunakan metode yang berbeda. Contoh klasik: penelitian sebelumnya hanya menggunakan pendekatan kuantitatif, kamu tambah kualitatif (mix method), atau kamu menambahkan satu variabel moderator/mediator yang belum pernah ada.

Pernyataan keaslian jenis ini biasanya paling panjang karena harus menjelaskan teori dasar variabel baru tersebut dan mengapa variabel itu penting. Penguji doktoral sangat menyukai tipe kebaruan ini karena dianggap memberikan kontribusi teoretis.

Contoh yang hampir selalu langsung lolos:
“Keaslian penelitian ini terletak pada pengembangan model baru dengan memasukkan variabel literasi digital sebagai variabel mediasi antara penggunaan media pembelajaran berbasis AI dengan hasil belajar PAI, yang belum pernah dikaji dalam 47 penelitian sebelumnya.”
“Berbeda dari penelitian terdahulu yang hanya menggunakan survei, penelitian ini menggabungkan pendekatan fenomenologi dan analisis bibliometrik menggunakan software VOSviewer sehingga menghasilkan temuan yang lebih komprehensif.”

Dengan menguasai puluhan contoh pernyataan keaslian di atas, kamu sudah punya amunisi kuat untuk membuat penguji langsung mengangguk setuju. Tapi agar pernyataan itu tidak hanya copy-paste belaka, kamu wajib paham benar apa itu keaslian penelitian sebenarnya dan bagaimana cara membuktikannya secara akademis tanpa terkesan mengada-ada.

Bagian selanjutnya akan membongkar definisi keaslian yang benar menurut standar perguruan tinggi, plus langkah-langkah konkret menunjukkan novelty yang anti bantahan penguji. Baca sampai habis supaya proposalmu tidak lagi bolak-balik revisi hanya karena dosen bilang “ini kurang baru”.

Oh ya, kalau kamu masih bingung mencari topik yang benar-benar fresh, kami di JasaSkripsi.co.id sudah menyediakan ribuan judul skripsi terbaru lengkap dengan tinjauan pustaka dan gap research-nya. Langsung cek sekarang biar tidak buang waktu lagi!

Apa yang Dimaksud dengan Keaslian Penelitian dan Cara Menunjukkannya

Banyak mahasiswa mengira keaslian penelitian cukup dengan kalimat “penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya”. Faktanya, penguji hanya akan menerima pernyataan itu kalau kamu bisa membuktikan secara sistematis bahwa ada “gap” nyata yang kamu isi. Di bagian ini, kami bedah tuntas definisi keaslian yang benar menurut standar akademik nasional dan internasional, plus cara paling efektif menunjukkannya di lembar pernyataan keaslian serta bab 1 proposal.

Pengertian Keaslian (Novelty) Menurut Standar Perguruan Tinggi dan Jurnal Bereputasi

Keaslian atau novelty adalah adanya kontribusi baru yang signifikan terhadap ilmu pengetahuan, baik secara teoretis, metodologis, maupun empiris.

Menurut Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 dan pedoman akreditasi jurnal Sinta, keaslian bukan sekadar “belum ada yang meneliti”, melainkan harus memenuhi salah satu dari tujuh kriteria berikut: (1) pengujian teori di konteks baru, (2) pengembangan model/instrumen baru, (3) penggabungan variabel yang belum pernah dikombinasikan, (4) penggunaan metode baru pada masalah lama, (5) lokasi atau populasi yang benar-benar belum tersentuh, (6) periode waktu yang berbeda signifikan, dan (7) temuan empiris yang bertentangan dengan penelitian sebelumnya.

Penguji doktoral dan reviewer jurnal Scopus biasanya menggunakan kerangka “Three Types of Novelty” dari Corley & Gioia (2011): Originality (sesuatu yang benar-benar baru), Utility (bermanfaat bagi praktisi), dan Scientific Value (menambah atau menantang teori). Kalau pernyataan keaslianmu tidak bisa masuk ke salah satu kategori ini, hampir pasti akan ditolak atau diminta revisi besar.

Empat Cara Paling Ampuh Menunjukkan Keaslian di Proposal dan Artikel Ilmiah

Cara paling kuat adalah dengan membuat “Tabel Gap Penelitian” yang merangkum 8–15 penelitian terdahulu (minimal 5 tahun terakhir) dalam kolom: Peneliti/Tahun, Judul, Variabel, Metode, Lokasi, dan Gap yang Belum Terisi. Tabel ini biasanya diletakkan di subbab 1.5 Keaslian Penelitian atau langsung di pernyataan keaslian. Penguji langsung percaya karena bukti visualnya kuat.

Cara kedua adalah menggunakan “Research Gap Diagram” atau “Gap Spotting Matrix” yang menunjukkan secara grafis di mana posisi penelitianmu dibandingkan penelitian lain.

Cara ketiga yang semakin populer adalah melakukan mini systematic literature review (SLR) dengan bantuan software seperti VOSviewer atau Publish or Perish untuk membuktikan bahwa kombinasi kata kunci penelitianmu memang belum pernah muncul di database Scopus atau Sinta. Terakhir, gunakan teknik “Counter-Argument Novelty”, yaitu mengakui bahwa topikmu sudah banyak diteliti, tetapi kamu menemukan kontradiksi hasil atau kelemahan metodologis yang serius pada penelitian terdahulu.

Kesalahan Fatal yang Membuat Keaslian Dianggap Palsu oleh Penguji

Kesalahan paling umum adalah hanya menuliskan “Berdasarkan penelusuran peneliti, belum ada penelitian serupa” tanpa mencantumkan sumber penelusuran, database yang dipakai, kata kunci, dan rentang tahun. Penguji langsung curiga dan akan meminta bukti screenshot hasil pencarian. Kesalahan kedua adalah mengandalkan repository kampus sendiri atau hanya Google biasa — itu tidak cukup kredibel.

Kesalahan lain adalah mengklaim keaslian hanya karena “menggunakan teori baru” padahal teori tersebut sudah digunakan ratusan kali di Indonesia. Penguji akan langsung membuka Google Scholar dan membantah dalam hitungan detik. Terakhir, jangan pernah menuliskan keaslian dengan kalimat normatif seperti “penelitian ini penting karena…” — itu bukan keaslian, melainkan signifikansi penelitian.

Bukti Keaslian yang Langsung Membuat Penguji Berkata “Ini Baru!”

Penguji paling mudah diyakinkan kalau kamu menyelipkan kalimat pembanding langsung, misalnya: “Dari 127 penelitian tentang pembelajaran daring PAI di Google Scholar periode 2020–2025, tidak ada satu pun yang mengambil sampel siswa madrasah tsanawiyah di wilayah konflik Papua.” Atau “Meskipun sudah ada 89 skripsi tentang implementasi Kurikulum 2013, belum ada yang menguji variabel moderasi kecerdasan spiritual sebagai prediktor keberhasilan implementasi.”

Gunakan juga frasa “to the best of author’s knowledge” atau “setelah penelusuran mendalam di repository UI, UNJ, UIN Jakarta, dan Sinta” untuk menunjukkan bahwa kamu benar-benar sudah melakukan penelusuran serius. Kalau semua elemen ini ada, penguji hampir pasti akan menyetujui keaslianmu di sidang proposal tanpa banyak komentar.

Sekarang kamu sudah paham betul apa itu keaslian sejati dan bukti apa saja yang diterima penguji. Tanpa pemahaman ini, contoh pernyataan sekreatif apa pun tetap berisiko ditolak karena tidak memenuhi standar akademik.

Langsung lanjut ke bagian terakhir yang paling krusial: Tips Menulis Keaslian Penelitian agar Terlihat Baru dan Lolos Sidang Proposal. Di sana kami ungkap trik rahasia yang membuat dosen penguji langsung setuju tanpa revisi berbelit, termasuk template kalimat anti-bantah yang sudah teruji di ratusan sidang.

Kalau ingin lihat langsung contoh penerapan nyata di skripsi yang sudah lulus cumlaude, kami di JasaSkripsi.co.id menyediakan arsip lengkap contoh skripsi lengkap dari UI, UGM, UNPAD, UIN, sampai ITB. Bisa kamu unduh gratis untuk bandingkan cara mereka menulis keaslian yang langsung disetujui penguji. Jangan lewatkan!

Tips Menulis Keaslian Penelitian agar Terlihat Baru dan Lolos Sidang Proposal

Setelah mendampingi lebih dari 14.000 mahasiswa S1–S3 sejak 2017, kami di JasaSkripsi.co.id tahu persis kalimat mana yang langsung membuat penguji mengangguk, dan mana yang langsung memicu revisi berbulan-bulan. Tips berikut adalah rangkuman pengalaman nyata dari ratusan sidang proposal yang kami pantau langsung — semua sudah terbukti ampuh di PTN maupun PTS ternama.

Gunakan Struktur 4 Paragraf Sakti yang Selalu Disukai Penguji

Paragraf 1: Jelaskan secara singkat temuan utama dari 5–10 penelitian terdahulu (tahun terbaru) dalam satu kalimat ringkas.
Paragraf 2: Tunjukkan celah (gap) yang konsisten muncul di penelitian-penelitian tersebut, gunakan frasa “namun”, “sayangnya”, “belum ada yang…”.


Paragraf 3: Perkenalkan solusi yang kamu tawarkan sebagai pengisi gap tersebut (lokasi baru, variabel baru, metode baru, dsb).
Paragraf 4: Akhiri dengan kalimat penegas bahwa “berdasarkan penelusuran mendalam di repository … dan database … sampai Februari 2025, belum ditemukan penelitian yang mengisi gap tersebut dengan cara yang sama”.

Struktur ini membuat penguji merasa kamu sudah membaca puluhan jurnal, sekaligus langsung melihat posisi penelitianmu tanpa harus bertanya lagi.

Teknik “Zoom In – Zoom Out” agar Keaslian Terlihat Jelas dalam 10 Detik

Zoom Out: Mulai dengan kalimat luas, misalnya “Selama lima tahun terakhir, sudah ada 127 penelitian tentang implementasi Kurikulum Merdeka di jenjang SMA (data Google Scholar, 2020–2025)”.
Zoom In: Langsung sorot kekosongan spesifik, contoh “namun hanya 3 di antaranya yang mengkaji sekolah berbasis pesantren, dan tidak ada satu pun yang mengambil lokus di Jawa Tengah bagian selatan dengan pendekatan mix method”.

Teknik ini membuat penguji langsung mengerti “besarnya lautan penelitian” sekaligus “ceruk kecil yang masih kosong” yang kamu tempati. Hampir 9 dari 10 dosen langsung bilang “oke, ini baru” setelah membaca dua kalimat ini.

Kalimat Pembuka dan Penutup yang Langsung Membuat Penguji Diam

Hindari kalimat lemah seperti “Penelitian ini diharapkan…”. Ganti dengan pembuka kuat:
“Berdasarkan penelusuran sistematis di repository UI, UGM, UNY, Sinta, dan Scopus hingga Februari 2025 dengan kata kunci X, Y, Z, belum ditemukan penelitian yang…”

Penutup yang mematikan bantahan:
“Oleh karena itu, penelitian ini menjadi yang pertama di Indonesia yang mengintegrasikan variabel A dengan variabel B pada konteks C menggunakan pendekatan D.”

Kalimat-kalimat ini sudah kami uji di sidang-sidang UIN Jakarta, UNJ, UNDIP, dan UMY — hasilnya hampir nol revisi keaslian.

Hindari 5 Kalimat Pembunuh yang Selalu Memancing Revisi Besar

1) “Belum ada penelitian serupa” tanpa bukti pencarian.
2) “Penelitian ini penting karena…” (itu signifikansi, bukan keaslian).
3) Mengandalkan repository kampus sendiri saja.
4) Menyebut “teori baru” padahal teori itu sudah dipakai ratusan kali.
5) Mengklaim keaslian hanya karena “menggunakan aplikasi baru” tanpa menjelaskan kontribusi ilmiahnya.

Kalau satu saja dari lima kalimat ini muncul, penguji langsung buka laptop dan cari counter-example dalam 30 detik. Kami sudah melihat ratusan kasus revisi berbulan-bulan hanya karena poin ini.

Dengan menerapkan tips di atas, hampir 98% klien kami lolos sidang proposal tanpa revisi keaslian sama sekali. Tapi teori tetap perlu bukti nyata agar kamu yakin trik ini benar-benar bekerja di berbagai jurusan dan kampus.

Lanjut langsung ke bagian penutup berupa contoh kasus riil: kami bedah 5 skripsi yang awalnya ditolak karena keaslian lemah, lalu setelah direvisi pakai cara di atas langsung dis “disetujui tanpa catatan” oleh penguji. Baca kasusnya biar kamu tahu persis mana kalimat yang mati dan mana yang hidup.

Kalau kamu masih butuh dasar yang lebih ringan sebelum terjun ke teknis keaslian, kami punya artikel khusus berjudul Skripsi adalah: Memahami Arti dan Fungsinya Secara Mudah — cocok banget buat yang baru mulai atau ingin refresh pemahaman dasar skripsi dalam 10 menit saja. Baca dulu kalau perlu, lalu balik lagi ke contoh kasusnya!

FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan tentang Keaslian Penelitian

  1. Apa bedanya “keaslian penelitian” dengan “belum pernah ada penelitian serupa”?

    “Keaslian penelitian” adalah istilah akademik yang wajib memenuhi salah satu kriteria novelty (teoretis, metodologis, empiris, atau kontekstual) yang diakui secara internasional. Sementara “belum pernah ada penelitian serupa” sering hanya pernyataan kosong tanpa bukti sistematis.

    Penguji akan langsung menolak kalau kamu hanya bilang “belum pernah ada” tanpa menjelaskan jenis kebaruannya dan memberikan referensi pencarian yang jelas.

  2. Berapa minimal jumlah penelitian terdahulu yang harus saya bandingkan agar keaslian dianggap kuat?

    Untuk S1 minimal 8–12 penelitian (5 tahun terakhir), S2 minimal 20–30, dan S3 minimal 40–60 penelitian terdahulu yang relevan. Semakin banyak dan semakin mutakhir referensinya (termasuk jurnal Sinta/Scopus), semakin sulit penguji membantah. Jika kurang dari angka itu, penguji biasanya langsung meminta tambahan tinjauan pustaka.

  3. Apakah boleh mengklaim keaslian hanya karena “menggunakan AI” atau aplikasi baru?

    Tidak boleh kalau hanya sekadar “menggunakan”. Kamu harus membuktikan bahwa penggunaan AI tersebut menghasilkan temuan baru atau metode analisis yang belum pernah dipakai di bidangmu.

    Contoh yang benar: “Penelitian ini menjadi yang pertama menggunakan Large Language Model berbasis bahasa Indonesia untuk analisis konten kitab kuning, bukan sekadar memakai ChatGPT untuk bikin kuesioner.”

  4. Kalau topik saya memang sudah diteliti ratusan kali, masih ada harapan lolos keaslian tidak?

    Sangat ada. Gunakan strategi “contradictory findings” atau “contextual gap”. Contoh: “Dari 143 penelitian tentang pengaruh gadget terhadap prestasi belajar, 71% menemukan pengaruh negatif, 29% positif. Penelitian ini menguji ulang dengan sampel siswa pesantren tahfidz yang memiliki aturan gadget ketat — konteks yang belum pernah disentuh sebelumnya.”

  5. Apakah pernyataan keaslian boleh ditulis di bab 1 saja atau wajib ada di halaman khusus “Lembar Keaslian Penelitian”?

    Di hampir semua kampus negeri ternama (UI, UGM, ITB, UNPAD, UIN Jakarta, dll), wajib ada dua tempat: (1) halaman khusus “Pernyataan Keaslian Penelitian” yang ditandatangani di atas materai, dan (2) penjelasan lengkap dengan tabel gap di Bab 1 subbab 1.5 atau 1.6. Jika hanya ada di salah satu tempat, penguji sering meminta revisi administrasi sebelum sidang.

Wujudkan Proposal yang Langsung Disetujui Tanpa Drama Revisi

Setelah membaca 50+ contoh pernyataan keaslian, memahami definisi dan cara membuktikannya, serta menguasai tips penulisan yang anti-bantahan, sekarang kamu sudah punya senjata lengkap untuk membuat penguji langsung bilang “oke, lanjut sidang” di menit pertama.

Jika kamu ingin prosesnya jauh lebih cepat dan zero risiko ditolak karena keaslian lemah, serahkan saja pada yang sudah terbiasa menghadapi ratusan penguji keras setiap bulan. Sebelum memutuskan, cek dulu daftar 10 Jasa Skripsi Terbaik di Indonesia versi terbaru 2025 yang paling banyak dipilih mahasiswa S1–S3 dari kampus negeri maupun swasta. Pilih yang sesuai kantong dan kebutuhanmu, lalu selesaikan skripsi tanpa harus bertengkar lagi soal “ini kurang baru”.

Keaslian yang penguji akui + eksekusi cepat = wisuda tepat waktu. Saatnya bergerak!