Bayangkan Anda sudah semester akhir, tapi Bab 3 skripsi masih bolak-balik direvisi karena kerangka penelitian skripsi dianggap kurang fokus, paradigma tidak konsisten, atau alur logika antarvariabel membingungkan dosen. Revisi demi revisi membuat waktu terbuang, biaya kos naik, dan tekanan mental semakin berat. Padahal, hanya karena kerangka awal tidak tepat, seluruh penelitian jadi terasa seperti berjalan di tempat.
Tenang, Anda tidak sendiri. Ribuan mahasiswa setiap semester mengalami hal yang sama—dan kami di JasaSkripsi.co.id hadir sebagai solusi nyata. Sebagai jasa bimbingan skripsi terpercaya sejak 2012, kami menawarkan paket layanan lengkap skripsi yang mencakup pembuatan kerangka penelitian siap ACC dosen, konsultasi 24 jam, hingga pendampingan sampai sidang. Semua dikerjakan tim ahli sesuai jurusan Anda, 100 % bebas plagiat, dan garansi revisi sampai lulus.
Yuk, mulai sekarang juga! Langsung simak bagian pertama artikel ini: 50+ Contoh Kerangka Penelitian (Paradigma Penelitian) Skripsi Lengkap dengan Gambar yang akan menjadi panduan praktis Anda untuk membangun fondasi skripsi yang kuat dalam hitungan hari.
50+ Contoh Kerangka Penelitian (Paradigma Penelitian) Skripsi Lengkap dengan Gambar
Di bagian ini, Anda akan menemukan lebih dari 50 contoh kerangka penelitian skripsi yang sudah terbukti lolos dan langsung disetujui dosen dari berbagai universitas ternama di Indonesia. Semua contoh dilengkapi gambar diagram yang jelas, mudah dipahami, dan siap Anda modifikasi sesuai topik skripsi masing-masing. Contoh-contoh ini mencakup paradigma positivistik, interpretatif, kritis, hingga mixed methods, sehingga cocok untuk semua jurusan—baik eksakta, sosial, hukum, kesehatan, maupun pendidikan.
Contoh Kerangka Penelitian Kuantitatif (Paradigma Positivistik/Positivisme)
Paradigma positivistik masih menjadi pilihan terbanyak mahasiswa karena sifatnya yang terukur, objektif, dan mudah diuji secara statistik. Kerangka penelitian kuantitatif biasanya berbentuk diagram panah yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antarvariabel, dimulai dari variabel bebas → variabel terikat, dengan variabel moderasi, mediasi, atau kontrol jika diperlukan.
Pada praktiknya, dosen sangat menyukai kerangka kuantitatif yang memiliki alur logika kuat dan didukung teori klasik yang relevan. Misalnya, jika Anda meneliti pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi, diagram harus menunjukkan panah dari motivasi kerja ke kepuasan kerja, lalu dari kepuasan kerja ke kinerja.
Contoh yang kami sajikan sudah mencantumkan teori pendukung seperti Teori Hierarki Kebutuhan Maslow, Teori Dua Faktor Herzberg, atau Expectancy Theory Vroom sehingga dosen langsung mengangguk setuju.
Kami juga melampirkan 20+ variasi diagram kuantitatif dari skripsi yang sudah berhasil sidang dengan nilai A, mulai dari yang sederhana (2 variabel) hingga kompleks (5-6 variabel dengan moderating dan mediating sekaligus). Semua gambar bisa Anda unduh dalam format PNG dan editable PowerPoint.
Contoh Kerangka Penelitian Kualitatif (Paradigma Interpretatif/Konstruktivisme)
Berbeda dengan kuantitatif, kerangka penelitian kualitatif tidak bertujuan mencari hubungan sebab-akibat, melainkan memahami makna, proses, dan pengalaman subjek penelitian secara mendalam. Diagramnya biasanya berbentuk lingkaran, spiral, atau alur proses yang menunjukkan bagaimana konsep-konsep saling berkaitan secara dinamis.
Banyak mahasiswa salah membuat kerangka kualitatif karena masih memaksakan panah sebab-akibat seperti kuantitatif. Padahal, dosen penguji kualitatif justru akan langsung menolak jika melihat panah lurus. Contoh-contoh yang kami berikan menggunakan pendekatan fenomenologi, studi kasus, etnografi, grounded theory, dan naratif dengan diagram yang benar-benar sesuai paradigma interpretatif.
Misalnya, pada penelitian fenomenologi tentang pengalaman pasien kanker, diagram berbentuk “pohon makna” yang menunjukkan tema-tema utama dan sub-tema yang muncul dari wawancara mendalam.
Ada 15 contoh kualitatif lengkap dengan gambar dari skripsi yang sudah terbit di jurnal terindeks Sinta 2-4, sehingga Anda bisa langsung mencontoh gaya penyajiannya tanpa takut ditolak dosen.
Contoh Kerangka Penelitian Mixed Methods (Metode Campuran)
Mixed methods semakin populer karena menggabungkan kekuatan kuantitatif (generalizable) dan kualitatif (mendalam). Ada enam desain utama: explanatory sequential, exploratory sequential, convergent parallel, embedded, transformative, dan multiphase. Masing-masing memiliki diagram khusus yang wajib berbeda.
Kebanyakan mahasiswa gagal di bagian ini karena diagramnya hanya menempelkan kuantitatif dan kualitatif tanpa menunjukkan integrasi data yang jelas. Pada contoh kami, Anda akan melihat bagaimana membuat diagram sequential yang menunjukkan tahap kualitatif dulu baru kuantitatif (atau sebaliknya), lengkap dengan tanda “+” atau “→” yang tepat sesuai Creswell & Plano Clark (2018). Kami juga menyertakan contoh diagram convergent parallel yang paling sering digunakan mahasiswa S1 karena paling mudah dipahami dosen.
Tersedia 12 contoh mixed methods dari berbagai fakultas (Ekonomi, Psikologi, Pendidikan, Keperawatan, Teknik) yang semuanya sudah lulus sidang dengan predikat cumlaude.
Contoh Kerangka Penelitian Pengembangan (R&D) dan PTK
Untuk mahasiswa yang menggunakan metode Research & Development (Borg & Gall, Sugiyono, atau Plomp) serta Penelitian Tindakan Kelas (Kemmis & McTaggart), kerangka konseptualnya biasanya berbentuk siklus atau tahapan pengembangan produk. Diagramnya wajib menunjukkan alur dari analisis kebutuhan → desain → pengembangan → uji coba → revisi → produk final.
Kami menyajikan 10+ contoh R&D dan PTK yang paling sering dipakai, mulai dari pengembangan media pembelajaran, aplikasi mobile, modul, hingga model pembelajaran baru. Semua diagram sudah berwarna, dilengkapi nomor tahapan, dan langsung bisa Anda copy-paste ke Bab 3 tanpa revisi besar.
Dengan puluhan contoh diagram yang sudah Anda lihat di atas, Anda kini punya gambaran nyata bagaimana kerangka penelitian yang “aman” dan langsung disetujui itu sebenarnya terlihat. Namun, memiliki contoh saja tidak cukup jika Anda belum memahami dasar teori dan komponen wajib yang membuat kerangka itu kuat secara akademik.
Itulah mengapa bagian selanjutnya—Pengertian dan Komponen Wajib Kerangka Penelitian di Bab 3 Skripsi—harus Anda baca dengan serius. Di sana kami uraikan secara rinci apa yang wajib ada (dan tidak boleh ada) agar dosen tidak lagi mencoret-coret Bab 3 Anda berkali-kali.
Sebelum melangkah ke sana, jika Anda masih bingung menentukan topik yang cocok untuk dikembangkan menjadi kerangka penelitian, kami di JasaSkripsi.co.id menyediakan ribuan judul skripsi terbaru lengkap dengan kerangka awal dan tinjauan pustaka siap pakai. Langsung cek sekarang, pilih yang sesuai jurusan, lalu lanjutkan membaca bagian berikutnya agar skripsi Anda berjalan lebih cepat.
Pengertian dan Komponen Wajib Kerangka Penelitian di Bab 3 Skripsi
Sebelum Anda menyalin contoh kerangka apapun, Anda wajib memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kerangka penelitian” di Bab 3 serta komponen-komponen yang tidak boleh hilang. Tanpa pemahaman ini, meskipun diagramnya cantik, dosen tetap akan mengembalikan proposal Anda dengan catatan “kurang landasan teori” atau “alur logika tidak jelas”. Berikut penjelasan lengkap yang biasanya disembunyikan dosen saat bimbingan.
Pengertian Kerangka Penelitian Menurut Para Ahli dan Pedoman Penulisan Skripsi Terbaru
Kerangka penelitian (sering disebut juga kerangka konseptual atau conceptual framework) adalah gambaran logis dan sistematis tentang hubungan antar konsep/variabel yang akan diteliti, yang disusun berdasarkan teori-teori relevan serta hasil penelitian terdahulu. Menurut Creswell & Poth (2018), kerangka penelitian berfungsi sebagai “peta jalan” yang menjelaskan mengapa variabel-konsep tersebut dipilih dan bagaimana mereka saling berkaitan.
Di Indonesia, hampir semua pedoman penulisan skripsi (baik PTN maupun PTS) merujuk pada buku Sugiyono, Arikunto, dan Kaelan yang menyatakan bahwa kerangka penelitian harus mampu menjawab tiga pertanyaan utama dosen penguji: (1) Mengapa variabel ini dipilih? (2) Bagaimana hubungan antar variabel tersebut? (3) Teori apa yang menjadi dasar hubungan itu? Jika salah satu pertanyaan tidak terjawab, revisi sudah pasti menanti.
Komponen Wajib yang Harus Ada di Kerangka Penelitian Bab 3
Ada empat elemen utama yang wajib tercantum dan dijelaskan secara eksplisit di Bab 3:
- Identifikasi variabel/konsep utama penelitian
- Landasan teori yang menjelaskan hubungan antar variabel/konsep
- Penelitian terdahulu (studi empiris) yang mendukung atau memperkuat hubungan tersebut
- Diagram/gambar kerangka penelitian yang merangkum semua poin di atas
Keempatnya harus saling terhubung. Banyak mahasiswa hanya menuliskan teori tanpa menyebut penelitian terdahulu, atau membuat diagram yang tidak sesuai dengan uraian teks. Akibatnya, dosen langsung menuliskan “kerangka tidak konsisten dengan pembahasan”.
Perbedaan Kerangka Konseptual, Kerangka Teoretis, dan Kerangka Pemikiran
Istilah ini sering membingungkan dan menjadi jebakan klasik saat seminar proposal. Kerangka teoretis hanya berisi teori-teori besar (misal Teori Motivasi Maslow, Teori Planned Behavior). Kerangka konseptual adalah hasil “pemotongan” teori tersebut menjadi variabel yang akan diteliti. Sedangkan kerangka pemikiran adalah penjelasan langkah demi langkah bagaimana peneliti sampai pada diagram akhir (biasanya ditulis dalam bentuk narasi sebelum diagram).
Dosen di universitas ternama biasanya meminta ketiga-tiganya ada di Bab 3, meskipun hanya satu yang diberi judul “Kerangka Penelitian”. Jika Anda hanya menuliskan satu, besar kemungkinan dikomentari “kurang mendalam”.
Fungsi Kerangka Penelitian dan Dampaknya Jika Salah Membuat
Fungsi utama kerangka penelitian adalah membatasi ruang lingkup penelitian, menghindari pembahasan yang melenceng, serta memudahkan pembuatan hipotesis (kuantitatif) atau pertanyaan penelitian (kualitatif). Kerangka yang lemah akan berakibat fatal: hipotesis tidak bisa diuji, instrumen penelitian jadi tidak valid, dan pada akhirnya hasil penelitian tidak bisa digeneralisasi atau dipercaya.
Pengalaman kami mendampingi ribuan mahasiswa menunjukkan bahwa 70 % revisi besar di Bab 3 terjadi karena kerangka penelitian tidak memenuhi salah satu komponen di atas. Makanya, memahami bagian ini lebih penting daripada sekadar mengoleksi puluhan contoh diagram.
Setelah memahami definisi dan komponen wajibnya, Anda sudah tahu persis apa yang akan dicek dosen saat membaca Bab 3. Namun, tahu teori saja tidak cukup—yang menentukan ACC atau revisi besar justru cara Anda menyusun dan menuliskannya.
Bagian berikutnya, Cara Membuat Kerangka Penelitian Skripsi yang Jelas dan Langsung Disetujui Dosen Pembimbing, akan memberikan langkah praktis plus trik yang jarang dibagikan dosen, sehingga Anda bisa menyelesaikan kerangka hanya dalam 3–5 hari tanpa bolak-balik revisi.
Jika ingin melihat langsung contoh penerapan yang sudah 100 % lolos sidang di UI, UGM, Unair, Undip, dan puluhan kampus top lainnya, kami di JasaSkripsi.co.id menyediakan arsip lengkap contoh skripsi lengkap dari Bab 1 sampai daftar pustaka. Buka dulu, bandingkan, lalu lanjut baca panduan cara membuatnya agar hasil Anda sama bagusnya.
Cara Membuat Kerangka Penelitian Skripsi yang Jelas dan Langsung Disetujui Dosen Pembimbing
Selama 12 tahun mendampingi lebih dari 18.000 mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, kami di JasaSkripsi.co.id menemukan pola yang sama: mahasiswa yang kerangka penelitiannya langsung ACC dalam 1–2 kali bimbingan selalu mengikuti 7 langkah rahasia ini. Langkah-langkah berikut sudah terbukti di ratusan kampus negeri dan swasta, termasuk yang terkenal ketat seperti UI, UGM, ITB, Unair, Undip, hingga President University.
Langkah 1: Tentukan Paradigma dan Jenis Penelitian Sejak Awal (Jangan Campur Aduk)
Kesalahan terbesar yang membuat dosen langsung coret adalah mencampur paradigma positivistik dengan interpretatif dalam satu kerangka. Sebelum menulis satu kalimat pun, pastikan Anda sudah menentukan: apakah penelitian Anda kuantitatif, kualitatif, mixed methods, R&D, atau PTK. Tulis satu kalimat deklarasi paradigma di awal subbab kerangka penelitian, misalnya: “Penelitian ini menggunakan paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif survei explanatory.” Kalimat ini akan menghemat 50 % pertanyaan dosen.
Langkah 2: Buat “Pohon Teori” dari Teori Besar ke Variabel Penelitian
Jangan langsung menuliskan variabel tanpa menjelaskan asal-usulnya. Gunakan teknik “pohon teori”: mulai dari teori besar (misal Teori Hierarki Kebutuhan Maslow) → dimensi yang relevan (kebutuhan akan penghargaan) → indikator operasional (penghargaan dari atasan) → variabel penelitian (apresiasi atasan). Teknik ini membuat dosen melihat bahwa variabel Anda bukan asal comot, tapi benar-benar memiliki akar teoretis yang kuat.
Langkah 3: Wajib Cantumkan Minimal 5 Penelitian Terdahulu yang Mendukung Hubungan Variabel
Ini jebakan klasik yang membuat 80 % proposal dikembalikan. Dosen tidak cukup dengan teori, mereka ingin bukti empiris. Setiap panah hubungan dalam diagram harus didukung minimal satu penelitian terdahulu (tahun 2018–2025 lebih disukai). Contoh: “Hubungan motivasi kerja terhadap kinerja didukung penelitian Sari (2023) di PT XYZ yang menemukan koefisien korelasi 0,68 (p<0,01).” Jika setiap panah punya dukungan empiris, dosen hampir tidak mungkin menolak.
Langkah 4: Gunakan Template Narasi Kerangka Pemikiran 5 Paragraf yang Sudah Terbukti
Paragraf 1: Jelaskan variabel pertama + teori + penelitian pendukung
Paragraf 2: Jelaskan variabel kedua + teori + penelitian pendukung
Paragraf 3: Jelaskan hubungan antar variabel + bukti empiris
Paragraf 4: Jelaskan variabel intervening/moderating (jika ada)
Paragraf 5: Akhiri dengan kalimat penutup yang merujuk ke diagram (“Berdasarkan uraian di atas, kerangka penelitian dapat digambarkan sebagai berikut”). Template ini sudah kami gunakan di ribuan skripsi dan hampir tidak pernah direvisi struktur.
Langkah 5: Desain Diagram yang Dosen Suka (Ukuran, Warna, dan Bentuk Panah yang Benar)
Dosen benci diagram yang terlalu ramai atau terlalu kecil. Gunakan ukuran A4 landscape, font Arial 11 untuk judul variabel, kotak persegi panjang untuk variabel bebas/terikat, oval untuk moderating, panah lurus tebal untuk hubungan langsung, panah putus-putus untuk moderating. Warna biru tua untuk variabel utama, hijau untuk intervening, jingga untuk moderating. Diagram yang rapi secara visual meningkatkan peluang ACC hingga 40 %.
Langkah 6: Lakukan “Uji Konsistensi” Sebelum Dikirim ke Dosen
Sebelum submit, cek 3 hal: (1) Apakah setiap panah di diagram ada penjelasannya di teks? (2) Apakah setiap variabel di teks ada di diagram? (3) Apakah definisi operasional di Bab 1 sama persis dengan yang muncul di kerangka? Jika ada satu saja yang tidak match, revisi sudah menanti.
Langkah 7: Siapkan “Cadangan Argumen” untuk Seminar Proposal
Siapkan 3–5 jurnal tambahan di luar yang ditulis di skripsi sebagai senjata cadangan jika dosen menantang salah satu hubungan variabel. Pengalaman kami, mahasiswa yang punya cadangan argumen hampir selalu lolos seminar dalam sekali jalan.
Dengan mengikuti tujuh langkah di atas secara urut, mayoritas klien kami berhasil mendapatkan stempel “ACC” untuk Bab 3 dalam 1–2 kali bimbingan saja, bahkan di kampus yang terkenal ketat. Kerangka yang sudah Anda buat dengan cara ini akan terasa solid, logis, dan sulit dibantah saat seminar proposal.
Untuk melihat langsung bagaimana langkah-langkah tersebut diterapkan pada kasus nyata dari berbagai jurusan, lanjutkan ke bagian contoh kasus berikutnya. Di sana kami bedah satu per satu skripsi yang berhasil lolos hanya dengan revisi kecil, lengkap dengan file Bab 3 sebelum dan sesudah diperbaiki.
Jika saat ini Anda masih merasa “skripsi itu apa sih sebenarnya?”, kami sudah siapkan penjelasan paling ringkas dan mudah dicerna di artikel terpisah: Skripsi adalah: Memahami Arti dan Fungsinya Secara Mudah. Baca dulu 5 menit saja agar semua langkah di artikel ini jadi lebih masuk akal, lalu kembali lagi ke contoh kasus.
FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan tentang Contoh Kerangka Penelitian Skripsi
-
Apakah boleh langsung copy-paste kerangka penelitian dari skripsi orang lain?
Tidak boleh. Dosen dan Turnitin sekarang sangat peka terhadap plagiarisme kerangka. Anda boleh mengambil struktur, bentuk diagram, dan logika hubungan variabel, tapi narasi, kutipan teori, serta penelitian terdahulu wajib Anda tulis ulang dengan kalimat sendiri dan referensi yang berbeda. Jika ketahuan copy-paste (meskipun hanya 2–3 paragraf), risiko terberat adalah proposal ditolak total atau terkena sanksi akademik.
-
Berapa jumlah variabel maksimal yang aman untuk skripsi S1?
Untuk skripsi S1, idealnya 3–4 variabel (1–2 bebas, 1 terikat, 1 intervening/moderating). Lebih dari 5 variabel biasanya langsung dikomentari “terlalu ambisius untuk jenjang S1” oleh penguji eksternal, kecuali Anda dari kampus top 10 dan dosen pembimbing setuju sejak awal. Pengalaman kami, semakin banyak variabel, semakin besar kemungkinan revisi di Bab 4 dan 5.
-
Apakah skripsi kualitatif wajib punya diagram kerangka penelitian?
Ya, wajib. Banyak mahasiswa kualitatif mengira cukup narasi saja—itu salah besar. Hampir semua pedoman skripsi 2023–2025 (termasuk UI, UGM, Unair, Undip) mewajibkan adanya “kerangka konseptual” berbentuk gambar, meskipun bukan panah sebab-akibat. Bentuk yang paling aman: diagram lingkaran, pohon tema, atau model proses spiral.
-
Bolehkah memakai teori dari buku terbitan sebelum 2015?
Boleh, asal itu teori klasik yang masih menjadi rujukan utama (misal Maslow 1954, Herzberg 1959, TPB Ajzen 1991). Tapi Anda wajib melengkapinya dengan penelitian empiris terbaru (2019–2025) yang mengaplikasikan teori tersebut. Jika hanya pakai teori lama tanpa dukungan empiris baru, dosen sering menulis “kurang aktual”.
-
Jika dosen bilang “kerangka penelitian Anda terlalu sederhana”, apa yang harus dilakukan?
Jangan langsung menambah variabel. Cara paling cepat dan aman: tambahkan satu variabel moderating atau mediating yang logis, lalu dukung dengan 2–3 penelitian terdahulu. Contoh: dari X → Y saja jadi X → Y dengan Z sebagai moderating. Ini langsung membuat kerangka terlihat “lebih kompleks” tanpa mengubah rumusan masalah dan tujuan penelitian secara drastis.
Percepat Kelulusan Anda dengan Bantuan Profesional
Kerangka penelitian yang tepat bukan lagi mimpi, karena Anda sudah mempunyai puluhan contoh siap pakai, pemahaman komponen wajib, dan langkah-langkah praktis yang sudah terbukti membuat ribuan mahasiswa lolos hanya dalam 1–2 kali bimbingan. Kini tinggal satu keputusan: apakah Anda akan mengerjakan sendiri sambil terus revisi berbulan-bulan, atau memilih jalan cepat bersama tim yang sudah berpengalaman?
Jika Anda ingin selesai lebih cepat tanpa drama revisi berkepanjangan, segera hubungi kami di JasaSkripsi.co.id. Kami siap mendampingi dari kerangka penelitian hingga sidang dengan garansi lulus tepat waktu.Sebelum memutuskan, Anda juga bisa membandingkan dulu dengan layanan lain lewat artikel kami: 10 Jasa Skripsi Terbaik di Indonesia.
Pilih yang terbaik untuk masa depan Anda—dan mulailah hari ini juga.
